Posted on

Good Design Product, Good Profit

Seminar Good Product Design, Good Profit diadakan di Jepara Hall pada tanggal 13 Desember 2019 sekitar pukul 13.00 WIB. Seminar ini diisi oleh tiga pembicara yaitu dari DTech Engineering, Industrial Design Center dan Isma. Topik yang mereka bawakan masing-masing yaitu yang pertama adalah dari DTech Engineering akan menjelaskan tentang produk design engineering, lalu tentang prinsip dalam mendesain sebuah produk serta menjelaskan tentang apa saja yang harus menjadi perhatian dalam mendesain sebuah produk. Topik kedua yang akan dibahas yaitu mereka akan menjelaskan tentang pengalaman DTech Engineering ini sebagai perusahaan Research and Development. Untuk pembicara kedua yaitu Industrial Design Center atau IDC, mereka akan menjelaskan tentang desain dan permintaan pasar akan sebuah desain lalu akan dijelaskan juga tentang kreativitas, estetika dan nilai ekonomis dari sebuah desain. Pembicara ketiga yaitu Isma akan menjelaskan tentang bagaimana menggunakan sebuah teknologi untuk memahami tren pasar.

DTech Engineering sendiri merupakan sebuah perusahaan teknologi yang berbasis di daerah Salatiga, Jawa Tengah. Perusahaan ini sendiri sejak tahun 2009 sudah berdiri dan sampai saat ini sudah memproduksi hampir 300 produk untuk kurang lebih 30 negara yang ada di dunia. Pada awalnya, produk-produk yang mereka buat adalah gantungan kunci, headset, sepeda, kerangka mobil elektrik sampai aircraft di Amerika. Prestasi yang diraih oleh perusahaan ini juga cukup mengejutkan, pada tahun 2013 mereka berhasil menjadi juara 1 pada kompetisi desain “Jet Engine Braket” lalu empat tahun kemudian di tahun 2017 mereka kembali meraih juara 1 pada kompetisi membuat “Jet Engine Inspection” untuk pesawat terbang. Pada awalnya perusahaan ini berpikiran bahwa sebuah Product Design diciptakan untuk membantu orang lain dan untuk menghemat waktu. Mereka sendiri mempunyai beberapa studi kasus yang akhirnya mereka bisa menemukan solusinya, yang pertama adalah studi kasus “Jet Engine Inspection” yang dimana yang menjadi penyebabnya adalah sebuah pesawat yang sudah terbang selama 100 ribu jam mesinnya harus di service dan hal ini dapat menyebabkan delay karena memakan waktu yang lama. DTech sendiri memiliki fokus untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan menemukan solusi yang bias mempercepat “Jet Engine Inspection” ini. Untuk desain yang diciptakan oleh DTech ini sendiri sekarang telah dikembangkan oleh perusahaan General Electric yang berlokasi di New York dan Chicago. Proses prinsip Product Design ini sebenarnya bermuara dari awareness kepada konsumen dan bukan hanya market oriented. Lalu studi kasus kedua adalah mereka membuat sebuah Ultralight Aircraft yang dimana mereka membuat sebuah pesawat untuk mengawasi ladang serta hewan ternak milik para petani maupun peternak yang berada di Amerika. Studi kasus yang ketiga adalah DTech ini membuat sebuah pulpen bernama Coco Pen yang dimana menargetkan pasar orang-orang Amerika dan Eropa yang sehari-harinya jarang melihat pantai, sehingga DTech ini menciptakan sebuah pulpen dengan aksen batok kelapa dengan modal yang kurang dari 50 ribu rupiah dan bisa dijual dengan harga sampai 500 ribu rupiah.

Untuk pembicara kedua yaitu Industrial Design Center atau IDC yang fokus pada desain furniture. Mereka melihat bahwa IKM-IKM sekarang memiliki permasalahan yaitu beberapa industri-industri maju sudah punya mindset yang bagus terhadap designer semetara IKM lokal masih takut untuk menghire seorang designer dikarenakan cost-nya yang begitu mahal. Sebenarnya peran desain dalam sebuah industri itu sangatlah penting yang dimana proses desain ini adalah sebuah hasil pemikiran dan bukan hanya corat-coret semata mulai dari problem solving, positioning product, pembentukan karakter sebuah produk, sebagai penyampai pesan, untuk memberi nilai tambah pada sebuah produk dan sebagai penanda dalam sebuah produk. Kebutuhan industri terhadap desain bisa dibilang sangat berkaitan karena desain tersebut bisa untuk memulai suatu produksi, pembentukan sebuah brand, penguatan sebuah produk terhadap konsumen, memberi nilai tambah produk dan lain-lain. Kekuatan dari desain ini sendiri dinilai dapat mengefisiensikan kebutuhan waktu sebuah produk, biaya produksi, material produksi, dapat menjawab kebutuhan pasar yang dituju, dapat memberi nilai pembeda dan nilai lebih serta tidak hanya sebagai pemanis saja tetapi bisa untuk mendapatkan peluang pasar baru. Untuk itu IDC ini hadir sebagai perubah mindset dalam IKM kita untuk melihat bahwa dalam menghire seorang designer adalah untuk investasi dan bukan hanya sekedar mengeluarkan biaya.

Lanjut ke pembicara ketiga yaitu Isma, perusahaan ini menawarkan sebuah sistem analisis untuk menyambungkan konsumennya yaitu IKM-IKM kepada pasar. Isma memiliki tujuan untuk mewujudkan ekosistem yang baik untuk IKM di Indonesia dan mereka melihat bahwa pelaku IKM sekarang hanya sibuk dengan produksi usaha serta menjalankan bisnisnya saja. Isma menggunakan kekuatan dari sosial media dan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin dalam melihat riset pasar, melihat tren pasar serta melihat potensi-potensi yang ada. Ikuti dulu pasar yang ada dan buat pembedanya sehingga produk yang ditawarkan pun bisa menjadi populer. Isma juga membantu IKM agar dapat menghemat waktu dalam melakukan riset pasar untuk produknya dan semua akan diotomatisasi. Mereka menilai tiap produk punya varian, kelebihan dan kekurangan dan Isma mengumpulkan semua data tersebut dari produk-produk terbaik yang ada di marketplace dan sebagai solusi untuk konsumen yaitu IKM mulai dari tren produk, kompetitor, segmentasi pasar sampai cara membuat deskripsi secara detail dan semua sudah dimudahkan dalam sebuah aplikasi. Untuk info selengkapnya dapat di cek www.isma.teamlab.com untuk informasi selengkapnya.